Mengusung tema “Opini Berdaya, Organisasi Berkarya”, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pengetahuan Al-Qur’an dan Tafsir (HMP IQT) adakan pelatihan kepenulisan pada Kamis sore, 4 Desember 2025.
Berlangsung di ruang RMHD 03 UMS, Pelatihan yang dimulai sejak pukul 16.00 ini dihadiri oleh para peserta yang tampak serius menyimak penyampaian materi.
Latihan kepenulisan kali ini merupakan episode ketiga dari program latihan kepenulisan yang digelar untuk memperluas wawasan dan meningkatkan potensi literasi mahasiswa UMS secara umum, dan mahasiswa program studi IQT secara khusus.
Pada episode ketiganya, latihan kepenulisan HMP IQT fokus membahas tentang kepenulisan opini, setelah sebelumnya mereka membahas tentang kepenulisan berita dan sebagainya.
Untuk pelatihan kepenulisan kali ini, HMP IQT mengundang Alfin Nur Ridwan sebagai pemateri. Beliau adalah alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta yang aktif menjadi penulis di berbagai platform digital seperti Mojok.co, IDNTimes, IBTimes dan lain sebagainya.
Dalam penyampaian materinya, Alfin—begitu beliau disapa menyampaikan tentang bagaimana cara menulis opini dengan menuangkan pemikiran sederhana yang ada dalam kepala kita, yang nantinya dapat diperluas dan disertai dengan data-data atau argumen yang mendukung, sehingga dapat menjadi opini yang baik.
Alfin juga menyampaikan pesannya kepada para peserta yang merupakan pemula dalam dunia kepenulisan untuk tak segan memulai menulis. Ia juga menyampaikan bahwa setidaknya, untuk menjadi bagian dari orang-orang yang abadi terkenang namanya, kita harus mulai menyumbangkan tulisan-tulisan kita pada platform digital.
“Kalo kalian mau tau, apakah nama kalian sudah abadi terkenang dunia atau belum, coba ketik nama kalian di kolom pencarian Google. Kalau yang muncul adalah platform platform digital yang menampilkan tulisanmu, maka kamu dan tulisanmu akan selalu terkenang.” Ucapnya.
Tentu saja, Alfin juga menyampaikan dalam materinya beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis opini. Seperti: Paragraf awal yang harus menarik perhatian pembaca, mungkin dengan cerita pendek, pertanyaan, kutipan tokoh, ataupun data yang mengejutkan.
Ria, salah satu peserta pelatihan kepenulisan ini mengaku cukup terbantu dengan kegiatan ini dalam memperluas wawasan literasi. Menurutnya, pelatihan kepenulisan ini memang perlu diadakan dan terus dibudayakan serta dikembangkan untuk menumbuhkan semangat dan kesadaran literasi mahasiswa.
Kiat-kiat dan prosedur menulis memang perlu diajarkan, namun sebanyak apapun materi tentang bagaimana cara menulis opini tidak akan berguna jika kita tidak segera mulai menulis.
“Dari semua hal-hal teknis mengenai kepenulisan, pada akhirnya hanya ada satu cara paling ampuh untuk menulis opini: TULISLAH!” Ucap Alfin dalam closing statementnya.
Kontributor: Astyra Gita Kinanti