TOKYO – Sejumlah delapan pemuda dan pemudi Indonesia delegasi Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Masjid Istiqlal dan UIN Syarif Hidayatullah mengikuti program pertukaran pemuda Indonesia – Jepang, Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth (JENESYS) 2025.
Program pertukaran pemuda yang digelar di Tokyo-Nagasaki, Jepang ini bertujuan untuk memperkuat hubungan Indonesia – Jepang melalui dialog lintas budaya, pembangunan perdamaian, dan kolaborasi lintas negara.
Para delegasi Indonesia, meskipun berasal dari pelbagai latar belakang keislaman di Indonesia membawa satu tujuan, yaitu memperkuat hubungan antar pemuda, toleransi global, dan memperluas paham multikulturalisme di Jepang.
Dalam program yang diadakan selama sepekan sejak 11 November 2025 ini, para delegasi berkesempatan mempelajari budaya Jepang secara langsung dengan mengunjungi Tokyo National Museum di Tokyo.
Kedatangan mereka kesana, yaitu untuk mempelajari sejarah peradaban Jepang, lalu mereka menyusuri wilayah Asakusa untuk berkenalan dengan tradisi Buddha dan Shinto. Tidak hanya itu, mereka pun berkesempatan menghadiri kuliah umum bersama Professor Miichi di Waseda University.
Dalam kuliah umum tersebut, dipaparkan tentang perkembangan komunitas Muslim di Jepang serta bagaimana ruang toleransi bagi kelompok minoritas dibangun oleh masyarakat Jepang.
Perjalanan para peserta dilanjutkan dengan mengunjungi Nagasaki Peace Park di kota Nagasaki yang merupakan kota bersejarah yang menjadi simbol perdamaian dunia. Di sana, para peserta berkesempatan mendengarkan langsung kisah kejadian pengeboman Nagasaki yang langsung dituturkan oleh para penyintas bom atom. Momen ini merupakan salah satu momen paling emosional selama program ini berlangsung.

Dalam kesempatan lain, Wali Kota Isahaya juga menerima kehadiran para peserta dan menyampaikan kepada mereka tentang bagaimana pemerintah daerah di sana membangun masyarakat inklusif melalui kebijakan pendidikan, pelayanan publik, dan partisipasi warga. Momen ini memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai model pembangunan sosial Jepang yang menjunjung tinggi toleransi dan keharmonisan.
Selama menjalani program dalam waktu sepekan itu, para peserta juga menjalani program homestay, tinggal bersama keluarga Jepang yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk memahami langsung implementasi budaya saling menghormati dan etos disiplin yang begitu melekat dalam keseharian warga lokal Jepang.
Hindun Niyatus Sa’adah, salah satu peserta asal Indonesia delegasi persyarikatan Muhammadiyah menyampaikan dalam refleksinya.
“Pengalaman ini sangat berarti dan memberikan pemahaman baru tentang bagaimana perbedaan dapat hidup bersama dalam harmoni. Saya ingin membawa semangat ini ke Indonesia untuk memperkuat ruang perjumpaan lintas identitas,” ungkapnya.
Hindun juga menambahkan, bahwa para delegasi Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan pengetahuan dan nilai-nilai yang mereka dapatkan selama program tersebut.
“Kami bisa menjadi super connector bagi teman-teman di daerah kami masing-masing, agar pengalaman berharga selama di Jepang tidak berhenti pada diri kami. Harapannya, apa yang kami bawa pulang dapat memantik transformasi sosial yang mendorong terciptanya masyarakat yang damai, adil, dan inklusif bagi semua,” jelas Hindun.
Setelah kembalinya Hindun dan tujuh teman lainnya ke Indonesia, yaitu Nabhan Mudrik Alyaum dan Ananul Nahari Hayunah, dari persyarikatan yang sama, serta empat delegasi lainnya, berencana menyebarkan wawasan perdamaian dan memperluas dampak program hingga ke masyarakat akar rumput melalui seminar dan diskusi kampus.
Hindun menyampaikan ajakan kepada para pemuda Indonesia untuk turut serta dalam JENESYS tahun mendatang.
“Mari ikut serta tahun depan. Semakin banyak pemuda Indonesia yang terlibat, semakin besar kontribusi kita dalam membangun budaya damai dan saling menghargai”. ujarnya.
Program JENESYS 2025 membuktikan kolaborasi antarbangsa dapat membuka ruang baru bagi tumbuhnya pemimpin muda yang berwawasan global, cinta damai, dan siap membangun masa depan yang lebih inklusif bagi semua.
Kontributor: Astyra Gita Kinanti