Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Overthinking dan Keresahan Gen Z: Apa Kata Al-Qur’an?

Ummu Kalsum S by Ummu Kalsum S
Oktober 7, 2025
in Esai, Narasi
0
Overthinking dan Keresahan Gen Z: Apa Kata Al-Qur’an?
40
SHARES
238
VIEWS

Oleh: Ummu Kalsum S. (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Era digital yang serba cepat ini, Generasi Z yang terdiri dari individu berusia 18 hingga 24 tahun dihadapkan pada tantangan mental yang unik. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Pew Research Center, sekitar 70% remaja saat ini melaporkan merasa cemas dan tertekan, dengan lebih dari 40% mengaku mengalami gejala depresi. Salah satu penyebab utama dari kondisi ini adalah kecenderungan untuk overthinking, atau berpikir berlebihan, yang semakin dipicu oleh tekanan sosial dan ekspektasi yang tinggi.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Peneliti menemukan bahwa banyak dari mereka terjebak dalam siklus berpikir negatif, sering kali disebabkan oleh perbandingan diri yang tidak sehat di media sosial. Dalam dunia yang dipenuhi dengan informasi yang terus-menerus, kemampuan untuk memproses dan menilai pikiran sendiri menjadi semakin sulit, menciptakan rasa kecemasan yang berkepanjangan. Generasi ini juga tumbuh di tengah pesatnya perkembangan era digitalisasi, yang mana teknologi dan internet sudah menjadi makanan sehari-hari (Nurrohim, 2024).

Dalam konteks ini, menjadi penting untuk menelaah bagaimana Al-Qur’an memandang permasalahan tersebut dan menawarkan solusi yang bersifat spiritual maupun aplikatif. Lebih lanjut, juga mempertanyakan bagaimana solusi Qur’ani tersebut dapat diaktualisasikan melalui media sosial agar menjadi sarana yang mendorong tumbuhnya budaya positif, bukan justru memperparah krisis mental yang ada. Di masa-masa seperti ini, Al-Qur’an bukan hanya kitab suci, tetapi juga sumber ketenangan pikiran yang berfungsi membimbing dari kegelapan menuju pencerahan (Nurrohim, 2019).

Memahami Overthinking dan Keresahan di Kalangan Gen Z

Overthinking adalah perilaku atau kecenderungan yang sering dialami oleh setiap orang, yang berkaitan dengan proses berpikir yang umum dilakukan seseorang. Berpikir berlebihan dapat menyebabkan kecemasan yang tinggi karena pikiran seseorang tidak sejalan dengan kenyataan yang ada. Penyebab overthinking bervariasi, namun biasanya terjadi ketika seseorang sedang memikirkan suatu pilihan, berusaha memahami tindakan atau pilihan orang lain, atau mencoba memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan (Andiani, 2020).

Ketika seseorang terlalu banyak berpikir dan merasa cemas, banyak yang akhirnya merasa tertekan sehingga mereka mencari cara untuk mengatasinya, misalnya berinteraksi dengan orang lain. Penyebab overthinking bisa bervariasi, yaitu seperti tekanan untuk tampil sempurna dan memenuhi ekspektasi sosial dapat menyebabkan mereka merenungkan setiap langkah yang diambil, yang berujung pada overthinking. Ketersediaan informasi yang berlebihan ini dapat membuat mereka merasa bingung dan cemas saat harus membuat keputusan, sehingga mereka terjebak dalam siklus berpikir berlebihan. Orang yang mengalami overthinking juga sering merasa terjebak dalam kekhawatiran tentang bagaimana orang lain akan menilai, yang membuat mereka lebih banyak berpikir daripada bertindak.

Overthinking ini juga berdampak pada kualitas kerja mereka karena mereka sering terfokus pada detail kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting dan mengabaikan gambaran besar. Pola-pola ini menunjukkan bahwa orang yang mengalami overthinking lebih rentan terhadap kecemasan, kurang percaya diri, dan kesulitan dalam mengelola waktu dengan baik. Hal ini juga menghambat kemampuan mereka untuk fokus dan membuat keputusan dengan cepat (Marsya Andini, 2025). Overthinking yang berkepanjangan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Keberlanjutan secara terus-menerus dapat mengakibatkan kecanduan digital, gangguan tidur, bahkan isolasi sosial akibat “kehidupan maya” yang lebih dominan. Interaksi sosial pun menjadi lebih sulit (Ahmad Nurrohim, 2025).

Overthinking dalam Perspektif Al-Qur’an dan Solusinya

Overthinking sendiri dalam agama Islam diartikan sebagai wujud dari rasa takut yang diikuti dengan rasa cemas, emosi yang meningkat, delusi, dan perasaan waspada. Akibat dari mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk bergantung hanya kepada-Nya dan tawakal atau berserah diri kepada Allah, individu akan berpikir terlalu banyak atau overthinking (Utami dkk., 2023).

Dalam Al-Qur’an, prasangka disebut dengan kata ظنّ (zhann) dan derivasinya dalam Al-Qur’an terdapat pada 18 ayat (Syarifatul Huzaimah, 2023). Allah melarang manusia untuk berprasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa, yaitu dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ


“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 139:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ


“Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.”

Ayat ini memberikan motivasi dan semangat bagi mereka yang sedang mengalami keterpurukan atau kurang percaya diri. Dalam konteks insecure atau overthinking, ayat ini dapat memberikan pemahaman bahwa Allah memerintahkan untuk tidak merasa lemah atau bersedih hati, bahkan ketika menghadapi kesulitan atau kegagalan. Konsep ini dapat membantu seseorang untuk mengatasi perasaan insecure dan overthinking dengan cara mengingat bahwa mereka berada dalam derajat yang tinggi jika mereka adalah orang-orang yang beriman.

Keresahan dan overthinking yang sering dialami oleh Gen Z dapat dilihat dalam konteks ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya berpikir positif dan menjaga hubungan baik dengan sesama. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, Allah mengingatkan umat-Nya untuk menjauhi prasangka dan ghibah serta untuk bertakwa. Pesan ini relevan bagi Gen Z yang sering terjebak dalam siklus pikiran negatif dan perbandingan sosial.

Dengan memahami ajaran Al-Qur’an, Gen Z dapat menemukan panduan untuk mengatasi keresahan dan overthinking. Sikap saling menghormati dan menjaga pikiran positif, selain itu dengan meningkatkan ketakwaan dan keimanan, mereka dapat menemukan ketenangan batin dan cara yang lebih sehat untuk menghadapi tantangan hidup. Salah satu konsep yang paling penting adalah jika seseorang mengingat Allah, maka hati mereka akan menjadi tenang (Nurrohim, 2024). Konteksnya bisa berupa membaca Al-Qur’an, berdoa, mengungkapkan rasa syukur kepada Allah, dan sebagainya. Ajaran Al-Qur’an benar-benar dapat membentuk perilaku dan akhlak generasi muda menjadi jiwa yang Qur’ani (Nurrohim, 2025).

“Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

_QS. Ar-Ra’d: 28_

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: Al-QuranGen-Zmentalhealth
Previous Post

Menghafal Al-Qur’an Sebagai Terapi Fisik dan Mental

Next Post

4 Cara Mudah Mengubah Kebiasaan Buruk yang Mengahambat Karier Anda

Ummu Kalsum S

Ummu Kalsum S

Next Post
4 Cara Mudah Mengubah Kebiasaan Buruk yang Mengahambat Karier Anda

4 Cara Mudah Mengubah Kebiasaan Buruk yang Mengahambat Karier Anda

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.