KALIMAHSAWA.ID, Surakarta – Langit Surakarta siang itu terasa cerah, namun suasana di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) lebih semarak. Ribuan mahasiswa baru memenuhi ruangan dalam rangkaian Masa Ta’aruf (Masta) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMS 2025. Sorot mata penuh antusiasme menyambut setiap agenda, seolah menjadi tanda dimulainya babak baru dalam perjalanan akademik mereka.
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah sambutan dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Fajar Riza Ul Haq. Kehadiran tokoh nasional sekaligus akademisi ini menjadi magnet tersendiri, terlebih karena ia seorang alumni UMS dan dikenal dekat dengan dunia pendidikan Muhammadiyah.
Dalam orasinya, Fajar menekankan bahwa dunia kampus bukan hanya tempat menimba ilmu akademik, melainkan juga ruang pembentukan karakter kepemimpinan.
“Mahasiswa Muhammadiyah harus memiliki jiwa leader. Seorang pemimpin mesti punya karakter dan mental yang kuat. Dan itu bisa ditempa melalui organisasi di kampus,” ujarnya lantang.
Menurutnya, organisasi adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa. Di sanalah mental diuji, kemampuan berargumentasi diasah, serta semangat kerja sama dilatih. Ia menegaskan, hanya mereka yang berani mengambil peran aktif di organisasi yang akan siap terjun menghadapi dunia nyata.
Dunia Kerja yang Tak Ramah
Suasana ruangan hening ketika Fajar mulai mengupas realitas dunia kerja. Ia tidak menutup-nutupi fakta keras yang menanti para mahasiswa setelah lulus.
“Dari ribuan mahasiswa baru yang hadir hari ini, hanya sekitar 10 persen yang kelak dengan mudah mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya,” katanya, sambil menatap ke arah mahasiswa.
Pernyataan itu sontak membuat banyak mahasiswa terdiam. Sebuah peringatan dini bahwa ijazah bukanlah tiket instan menuju kesuksesan. Dunia kerja, menurut Fajar, tidak ramah. Ia penuh kompetisi, perubahan, bahkan kejutan yang tak terduga.
“Dunia nyata jauh lebih keras daripada dunia kuliah. Gelar akademik saja tidak cukup. Kalian harus menyiapkan diri dengan keterampilan yang relevan dan mental yang tahan banting,” tegasnya.
Tiga Kompetensi Kunci
Sebagai bekal, Fajar membekali mahasiswa dengan tiga kompetensi kunci yang menurutnya wajib dimiliki untuk menghadapi persaingan global.
- Kemampuan Berkomunikasi.
Komunikasi yang baik adalah jembatan menuju keberhasilan. “Tanpa komunikasi yang jelas, kerja sama akan runtuh. Perusahaan, sekolah, lembaga, semuanya membutuhkan komunikasi yang baik untuk tumbuh,” ujarnya. - Pemikiran Kritis.
Fajar menegaskan, mahasiswa harus melatih diri agar tidak mudah menerima sesuatu begitu saja. “Berpikir kritis membuat kalian mampu membaca masalah dan menemukan solusi. Biasakan membaca buku, berdiskusi dengan dosen, serta terlibat dalam perdebatan akademik. Dari sanalah otak kalian ditempa,” jelasnya. - Kemampuan Berkolaborasi.
Dunia kerja saat ini, kata Fajar, tidak lagi bisa dijalani sendirian. Kolaborasi adalah kunci agar mampu beradaptasi dengan cepat. “Bekerja sama melahirkan chemistry antarpekerja. Kalian harus siap dengan perubahan dan mampu bekerja lintas bidang,” tambahnya.
Menurut Fajar, ketiga kompetensi ini bukan hanya teori, melainkan bekal nyata yang akan membedakan antara mereka yang mampu bertahan dan mereka yang tertinggal.
Menutup orasinya, Fajar Riza Ul Haq memberikan pesan yang sederhana namun penuh makna. “Siapkanlah dirimu yang terbaik, karena dunia nyata itu lebih keras,” katanya, disambut tepuk tangan panjang dari ribuan mahasiswa baru.
Pesan itu seolah menjadi gong yang menandai dimulainya perjalanan baru para mahasiswa UMS. Bahwa Masta bukan hanya ajang perkenalan kampus, melainkan juga ruang untuk menata niat, membangun karakter, dan menyiapkan mental menghadapi kehidupan selepas wisuda.
Masta sebagai Titik Awal
Bagi UMS, kehadiran Wamen Fajar Riza Ul Haq tidak sekadar memberi semangat, tetapi juga menjadi simbol bahwa kampus ini serius menyiapkan mahasiswanya menjadi insan yang paripurna: unggul dalam akademik, tangguh dalam mental, dan berdaya saing global.
Masta PMB UMS 2025 pun menjadi pengingat bahwa dunia perkuliahan bukan sekadar ruang belajar teori, melainkan ladang pembentukan pribadi. Sebab pada akhirnya, seperti pesan Fajar Riza Ul Haq, hanya mereka yang benar-benar siaplah yang mampu menaklukkan kerasnya dunia nyata.
Penulis: Dwi Kurniadi