Oleh : Aufa Ubadah An Nu’man (Kader PK IMM Maba Putra Sukoharjo)
Iqra’ merupakan perintah pertama yang berbentuk wahyu, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia. Kata iqra’ yang berarti “bacalah” mendorong manusia untuk membaca dan memahami segala sesuatu di sekitarnya. Dalam sebuah kajian televisi, Ustaz Quraish Shihab menyatakan bahwa iqra’ dalam ayat ini tidak memiliki objek tertentu. Hal ini mengandung makna bahwa manusia diperintahkan untuk membaca segala hal, baik yang kecil maupun besar, tanpa terbatas pada buku, kejadian, atau hal lainnya. Selanjutnya, ayat ini dilengkapi dengan lafaz bismi rabbik, yang berarti “dengan nama Tuhanmu,” menegaskan bahwa setiap aktivitas, termasuk membaca, harus dilakukan dengan niat mencari ridha Allah. Sebagaimana firman-Nya: Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin yang berarti “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Kuntowijoyo sering kali mengartikan makna tersebut sebagai makna transendental. Yakni kesadaran utuh atas kehadiran Allah dan segala perintahnya sehingga berdampak pada upaya kita, langkah kita, perjuangan kita, yang ditunjukkan dengan kepekaan terhadap liberasi dan humanisasi seperti yang di firmankan pada QS Ali Imran ayat 110.
Selain makna transendental kuntowijoyo, bismirabbik ditunjukkan pula sebagaimana Quran surat Al Baqarah ayat 26,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَاۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًاۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya. Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang fasik”
Dalam kitabnya, Al-Sa’adi menjelaskan makna ayat “fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuunal haqqa min rabbihim“, bahwa setiap hal sekecil apa pun, jika diteliti dan diperhatikan dengan saksama, akan menambah ilmu dan keimanan seseorang. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa meskipun terdapat makna-makna tersembunyi dalam ayat tersebut, makna tersebut tetap akan mengarahkan seseorang kepada hikmah, asalkan ia memiliki iman dan takwa. Dengan memperoleh hikmah, seseorang tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga semakin bertambah keimanannya serta memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupannya.
Pada Q.S. Ali Imran ayat 190–191 menunjukkan bahwa dalam setiap penciptaan langit dan bumi (semesta) serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ulul albab). Sehingga, apabila kita menilik ayat yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah tadi, di mana perumpamaan sekecil nyamuk pun dapat menambah keimanan seorang hamba, maka bagaimana dengan perumpamaan yang lebih besar, seperti pergantian siang dan malam atau penciptaan langit dan bumi yang begitu luar biasa indah dan tak terbayangkan? Maka, pantaslah hal itu menjadi tanda bagi orang yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap waktu, baik siang, sore, malam, maupun dalam keadaan apa pun, bahkan ketika tidur sekalipun. Itulah yang ditunjukkan sebagai orang yang memiliki mata hati terbuka, atau bisa pula disebut sebagai mata ulul albab yang ada di dalam dirinya.
Hikmah dan pengaruh dalam kacamata Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi.
Secara hikmah dan pengaruh, terutama dalam kacamata filsafat, pembahasan ini tidak akan terlepas dari kajian ontologi (ilmu tentang “ada”) yang membahas keterkaitan antara sesuatu yang “ada” dengan sesuatu yang “mungkin ada.” Dalam filsafat, “ada” atau “wujud” merujuk pada sesuatu yang kekal, abadi, dan tidak terikat oleh waktu. Artinya, keberadaannya tidak diadakan, selalu ada sejak awal hingga akhir, bahkan tidak memiliki permulaan maupun akhir, sehingga benar-benar dapat dikatakan sebagai “ada.” Lalu, bagaimana dengan sesuatu yang “mungkin ada”? Sesuatu yang “mungkin ada” dapat dijelaskan sebagai entitas yang termanifestasi karena adanya Tuhan, tetapi sifatnya selalu berubah dan tidak memiliki ketetapan selain perubahan itu sendiri. Manusia termasuk dalam kategori “mungkin ada” karena keberadaannya terikat oleh ruang dan waktu. Tidak hanya manusia, alam semesta dan segala isinya pun termasuk dalam kategori ini, kecuali menurut beberapa pendapat yang menyatakan bahwa unsur-unsur tertentu muncul bersamaan dengan keberadaan Tuhan itu sendiri.
Kembali pada konsep “membaca” atau iqra’, frasa “iqra’ bismi rabbik” menuntut manusia untuk membaca dan memahami ayat-ayat kauniyyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta) dan qauliyyah (wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an). Dengan membaca dan merenungkan keduanya, manusia terdorong untuk berpikir lebih kritis hingga mencapai makna ilahi. Agama Islam, yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW dengan Al-Qur’an sebagai pedomannya, secara jelas menjelaskan hubungan antara manusia dan Tuhan.
Sehingga dengan arahan membaca, terutama membaca hingga hal-hal yang paling kecil dengan menyebut nama Tuhan (Rabb), menunjukkan pentingnya memahami sisi teologis yang berdampak pada keseluruhan alam semesta. Dengan menyadari siapa yang menciptakan kita, maka kita juga akan menyadari siapa yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya. Hal ini menjadikan perintah-perintah Tuhan semakin jelas bagi kita, sehingga semakin bertambah pula kesadaran akan keberadaan-Nya dan tanggung jawab kita terhadap segala sesuatu yang telah Dia ciptakan.
Secara episteme, umumnya sumber kebenaran berasal dari apa yang seseorang peroleh dan pikirkan. Selain itu, intuisi juga dianggap sebagai salah satu sumber kebenaran, meskipun masih menjadi perdebatan. Dalam Islam, terdapat tambahan sumber kebenaran, yaitu khabar shadiq atau kabar yang benar, yakni Al-Qur’an dan hadis yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Al-Qur’an diyakini tidak hanya sebagai teks mistis, tetapi juga sebagai hudan (petunjuk) dan furqan (pembeda antara yang benar dan salah) bagi umat manusia. Oleh karena itu, melalui Al-Qur’an, kita dapat memahami bagaimana hubungan antara Tuhan dan manusia, seberapa dekat-Nya Tuhan dengan manusia, serta bagaimana upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, tidak ada jalan atau upaya untuk kembali kepada Tuhan selain melalui petunjuk yang telah ditetapkan-Nya dalam firman-Nya.
Secara aksiologis, nilai-nilai dalam kehidupan dapat dilihat melalui tiga dimensi utama, yaitu moral, etika, dan estetika. Moral menggambarkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu hal, baik dalam kaitannya dengan kemanusiaan, kemajuan teknologi, maupun keberadaan nilai itu sendiri. Pertanyaan tentang apakah sesuatu memiliki nilai atau tidak menjadi bagian dari refleksi filosofis yang mendalam.
Kesadaran transendental memainkan peran penting dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap lingkungannya. Ketika seseorang memiliki kepekaan dalam membaca realitas sekitar, ia akan mampu memahami hakikat kehidupan dengan lebih bijaksana. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin”, yang berarti “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bukan hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga menjadi rahmat bagi seluruh makhluk, termasuk hewan, tumbuhan, serta alam semesta.
Kesadaran ini seharusnya mendorong manusia untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola dan mengembangkan alam dengan penuh kebijaksanaan. Setiap keputusan dan tindakan yang diambil harus mempertimbangkan aspek maslahat, keberlanjutan, serta kesejahteraan makhluk hidup di bumi. Dengan memahami bahwa seluruh ciptaan Allah memiliki keterkaitan satu sama lain, manusia dituntut untuk menjaga keseimbangan dan harmoni di dalamnya, sehingga keberadaan mereka menjadi bagian dari rahmat yang Allah anugerahkan bagi semesta alam.
Catatan Penutup
Dengan Iqra’, kita akan menyadari berbagai macam hal yang ada di sekitar kita. Suatu kesadaran ini akan memengaruhi setiap aspek perilaku kita, terutama dalam membentuk kesadaran transendental yang berlandaskan keyakinan penuh kepada Allah SWT. Melalui pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah maupun qauliyah-Nya, keimanan kita akan semakin bertambah, begitu pula dengan upaya dalam mengerjakan amal saleh. Semua ini berawal dari niat yang tulus, diikuti dengan bacaan yang kita pahami serta renungkan secara mendalam.
Editor: Rafidah Azis