Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Al-Qusyairi sebagai Peletak Dasar Mistime Sunni

RedaksiKS by RedaksiKS
Juli 21, 2023
in Tasawuf
0
Al-Qusyairi sebagai Peletak Dasar Mistime Sunni
35
SHARES
208
VIEWS

Pada zaman yang serba instan dan digital ini kebanyakan informasi tersebar luas tanpa adanya pemilihan dalam mengkonsumsinya. Khususnya pada pengkajian tasawuf sering dianggap sebagai pembid’ah-bid’ahan agama islam oleh golongan islam yang membenci agama tersebut. Mistisme ialah sebutan untuk para ilmuan barat mengartikan sufisme dalam istilah mereka.

Biografi Al-Qusyairi 

Tasawuf adalah sebuah pengkajian keilmuan tentang hal bersifat esoteris dan eksoteris yaitu tentang intuisi seorang individu hambanya terhadap tuhan yang esa. Dalam term islam ialah ihsan dengan wasilah beribadah yang seolah-olah seorang tersebut melihat tuhan. Dalam istilahnya makrifat kepada Allah atapun menggapai yang ridhoi hamba kepada khaliq-Nya.

TulisanTerkait

Ultimate Selfhood: Wacana Ontologis-Spiritual Seyyed Hossein Nasr

Tasawuf Sebagai Solusi di tengah Problematika Umat

Peran Tasawuf Sebagai Terapi Spiritual Modern

Kebanyakan orang yang jarang mengetahui bahwa yang menjadi pelopor dari mistisme islam abad pertengahan. Dengan gejolak konflik berkembangnya tasawuf aliran semi falsafi dan tasawuf aliran moderat pada era abad pertengahan tersebut. Mengakibatkan pecahnya pemahaman orang yang baru masuk islam.

Ulama tasawuf yang beraliran semi falasafi abu yazid al-bustomi dan abu mansur al-halaj. Kedua ulama tersebut dianggap beraliran semi falsafi, dikarenakan mereka sudah berpaham bahwa ibadah itu hanya dengan mengingat tuhan semata tanpa melakukan sholat dikarenakan maqamat pada kedua ulama tersebut sudah sampai pada maqamat makrifat atau melihat Allah.

Salah satu ulama tasawuf yang beraliran moderat pada era tersebut yaitut imam al-qusyairi dan imam al-ghozali. Kedua ulama tersebut menentang pehaman dari al-busthomi dan al-halaj yang mengatakan ibadah hanya dengan mengingat tuhannya saja itu memang arti dari definisi dari sholat sendiri tapi jika tidak adanya sholat itu merusak tatanan keislaman tersebut .

Para ahli tasawuf yang moderat salah satuya Imam al-qusyairi yang lahir pada bulan Rabiul Awal tahun 376 H\986 M. Bertempat di kota ustawa beliau dilahirkan dengan keadaan yatim. Sejak kecil diasuh oleh abu qasim al-alimani seorang sahabat karib keluarga kepada dia juga belajar bahasa dan sastra arab. Pada usia remaja imam qusyairi berguru kepada imam besar.

Abu ali al-hasan ali an-nasiburi yang lebih dikenal dengan imam ali ad-daqaq seorang pembesar ulama masyhur daerah naisabur. Terkenal sebagai guru spiritual imam al–qusyairi. Di karenakan imam ali ad-daqaq itu pernah menguji imam al-qusyairi saat masih kecil melihat ada potensi yang dimiliki oleh al-qusyairi kecil

Peletak Tasawuf Imam Al-Qusyairi

Pada perkembangan tasawuf abad ke-5 merupakan tajdid tasawuf masa peralihan madzab falsafi ke sunni, peletak pertama dasar tasawuf yang sunni. Beliau membuat pembaruan tentang tasawuf yang pada abad seelumnya telah terkontaminasi pemikiran syatohat tasawuf falsafi yang tidak diperuntukan untuk kalangan umat islam yang baru masuk islam.

Salah satu bentuk pembaruan menyusun kitab risalatul qusyairiyah, didalam kitab ini imam memuat pelbagi konsep dasar dalam tasawuf baik dalam istilah yang sering pakai. Hingga terkait peran tokoh tasawuf pada masa zaman tabi’in hingga pada tokoh populer pada zaman itu. Dia membuat hikayat terkait pengalam tasawuf pada tokoh diatas dengan mempertimbangkan suasana tasawuf yang bisa di terima.

Perbedaan pemahaman dasar islam dan sudut pandang kajian keilmuan antara kelompok sufi dan ahlul zahwair (yang berpegang teguh pada syari’at. Kelompok syariat menghukumi yang tidak ada standarisasi pada ajarannya merupakan hal bida’ah. Tapi untuk kaum sufi menyatakan hal aneh yang keluar batas syari dianggap sebagai pencapain maqamah.

Dikarenakan dalam tasawuf yang dibawakan al-qusyairi berpedoman al-quran dan sunnah nabi Muhammad Saw. Dari segi sanad keilmuan imam qusyairi memiliki guru spiritual imam ali aldaqhaq seorang sufi masyhur di daerah irak. Dan al-qusyairi mengkaji lebih mendalam terkait kitab yang disusun dari pondasi awal tauhid hingga masuk pada pendefisian tasawuf 

Urgensi Tasawuf dari Al-Qusyairi

Setiap problematik pasti ada manfatnya tapi kebanyakan mengangungkan ibrah dari sifat ini menjadikan muncul khairun nass anfa’ahum lin nas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Karena tasawuf penuh dari hikmah yang berkecimbung dimensi yang intuisi berarahan.

Al-qusyairi meneliti lebih mudah konsep tasawuf yang berpatokan tauhid sebagai dasar islam yang berintikan mengesakan tuhan yang maha esa. Dan menitikan bahwa al-qusyairi bermadzab tasawuf sunni yang berwawasan sunah nabi dalam periwayatan syatahat beremanasi tuhan yang bersemanyam setiap diri hamba-Nya.

Pertama, tasawuf bukan sebagai hal yang menyimpang melainkan poros dari agama yang berorietasi kepada Allah SWT, di disinyalir konsep tasawuf bukan untuk menyekutukan tuhan tapi mendekatkan kepada tuhan-Nya

Kedua, tasawuf mengajarkan mensucikan diri bukan mengotori diri, sebagai dasar islam tsawuf bertempat pada ihsan, representasi ihsan ilah. Akhalq muncul karena kesucian diri pada sesama makhluk hidup untuk menumbuhkan pasti dengan berbuat terpuji tidak mendzhalimi sesama. Maka dari itu sebagai penulis menyampaikan agama islam sangat penting dengan tanpa meninggalkan dominasi ilmu tauhid, syariat, akhlaq  menuju islam yang kaffah harus memahami islam mendalam untuk mendapat intisari agama itu sendiri.

Penulis : Ahmad Fathir Fajar Shidiq (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Pentingkah Fear of Missing Out ?

Next Post

Keadilan Sosial Perspektif Nurcholish Madjid

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Selama periode ini pula Cak Nur menjadi peserta yang paling aktif dari kelompok-kelopok diskusi. Salah satu kelompok diskusi itu adalah Yayasan Samanhudi

Keadilan Sosial Perspektif Nurcholish Madjid

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.