Potret Keluarga Demokratis

Oleh: M Husnaini Siapa yang tak kenal KH A Wahid Hasyim. Hampir setiap orang tahu dan mengenalnya. Dia adalah putra pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. Perjalanan hidupnya singkat, karena Allah telah memanggilnya ketika usianya belum lagi genap 39 tahun. Meski di usianya yang relatif muda, ia telah menjadi figur penting dan memiliki pengaruh yang luar biasa di berbagai kalangan. Kiprahnya…

Hati-Hati dengan “Sengkuni” di Era Kini

Semasa Saya kecil saya suka mendengarkan cerita dari ayah saya. Namun, tidak seperti teman-teman saya pada umumnya.  Kebanyakan mereka diberikan cerita oleh orang tuanya tentang dongeng “kancil mencuri timun”, “ayam dan elang” ataupun “kisah mulia para nabi dan rasul yang penuh keteladanan”. Sebelum tidur Saya terbiasa mendengar kisah-kisah pewayangan yang kisahnya heroik, dramatis dan sesekali jenaka. Di sela-sela itu ayah selalu menyampaikan…

Pasca “Kematian Tuhan”

Pasca ‘kematian tuhan’

Paruh pertama abad 20. Enam juta Yahudi mati—setelah sebelumnya lama berdoa dan tidak kunjung di jawab—artinya Atheisme bukan tanpa sebab. Holocaust adalah salah satu trauma yang menghilangkan kepercayaan manusia modern kepada Tuhan. Sebagian besar korban kekejian Nazi putus asa karena Tuhan ternyata tidak mendengarkan doa mereka. Enam juta orang Yahudi mati. Setelah sebelumnya di siksa, wanitanya diperkosa dan dibakar hidup-hidup. Itu terjadi…

Menuju Maqashid Syari’ah Generasi Z (2)

Generasi muda dalam Muhammadiyah mewakili individu atau komunitas yang memiliki identitas Muhammadiyah, baik sebagai afiliasi organisasi, partisipasi, maupun praktik organisasi (Mohammad Rokib, 2015:110). Wajah generasi muda dalam Muhammadiyah sangat plural. Sebagai organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, Muhammadiyah mau tidak mau telah menjadi bagian dari kehidupan kultural masyarakat Indonesia. Lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan yang dimiliki oleh Muhammadiyah misalnya secara tidak langsung menjadi…

Menuju Maqashid Syari’ah Generasi Z (1)

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah Terdapat dua metode atau cara untuk memahami petunjuk “jalan menuju sumber kehidupan [Allah Swt]” (syari’ah). Pertama adalah dengan melandaskan diri pada teks-teks otoritatif, Al-Qur’an dan Sunnah sebagai bahan primer. Metode pertama dikenal sebagai ‘ilm yang punya kedekatan makna dengan “tanda” (al–kuunu atau ‘aalimu). Maka istilah ‘ilm dalam hal ini bukan bermakna “pengetahuan” sebagaimana yang banyak diterjemahkan (Fazlur Rahman,…

Dasar Negara Islam Apakah Bisa Dipaksakan?

Oleh: Nirwansyah Judul diambil dari salah satu sub buku “Natsir: Politik Santun Di antara Dua Rezim”. Diskursus tentang Islam sebagai dasar negara mungkin sudah menjadi perdebatan yang sudah usang bak lagu lama yang diputar ulang kembali. Keinginan untuk mendirikan negara berdasarkan Islam akan senantiasa muncul walaupun hanya arus-arus kecil. Namun, hal demikian tak boleh dibiarkan begitu saja. Sebab, arus-arus kecil tersebut apabila…

Apakah Sains dan Agama Bisa Didamaikan?

Oleh : M. Andhim Hingga detik ini masih kuat anggapan dalam masyarakat luas bahwa agama dan sains merupakan dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Mereka menganggap bahwa antara agama dan sains masing-masing memiliki entitas sendiri-sendiri. Ilmu agama yang bersumber dari nash agama tertentu disebut dengan Releaved knowledge  atau Pengetahuan yang bersumber dari wahyu Tuhan dan Ilmu yang diperoleh hasil berfikir manusia disebut…

Basis Profetik Sebagai Etos Transformasi Sosial

Oleh: Rifqi Bagus Priyono Dampak dari digitalisasi, moderenitas dan pesatnya keilmuan benar-benar mengeringkan aspek spiritual manusia. Progresnya peradaban, terutama dalam bidang sains, digital maupun pada bidang keilmuan lainnya sangatlah masif. Hal tersebut sangatlah baik dalam kaitannya perananan manusia sebagai khalifah. Yang jelas salah satu tugasnya ialah merumuskan sekaligus mengawal kemajuan pada seluruh alam raya ini. Di lain sisi tidak bisa dinafikkan adanya…