Mencoba Mendamaikan Masa Lalu

Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial–Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS-UMS) menggelar Kolokium dengan konsep diskusi buku pada Jum’at (18/10/2019) siang di ruang rapat Badan Pembina Harian (BPH) UMS. Buku yang didiskusikan pada acara tersebut berjudul “Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala” yang ditulis oleh Dr. Sudibyo Markus yang sekaliagus menjadi pemateri pada acara tersebut. Pada umumnya, karya yang membahas hubungan Dunia Barat…

Membaca Realitas Keummatan

Oleh: Furqan Mawardi Keanekaragaman itu terikat di dalam kosmis. Keanekaragaman kosmis adalah sebuah fakta, namun terkadang tidak menafikkan yang lain seperti uang, materi dan kebendaan. Jadi faktor keanekaragaman manusia itu bukan berarti ada manusia di luar. Kebenaran itu tidak bisa dimonopoli oleh seseorang sebagaimana udara, kita tidak menghirup udara itu sendiri, kemudian orang lain tidak bisa. Coba kita lihat sebuah menara, misalnya…

Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya

Kalimah Sawa’-Membangun jiwa itulah dua kata kunci yang terdengar di dalam syair lagu kebangsan kita “Indonesia Raya”. Sebuah lagu kebangsaan yang muncul dari sebuah keinginan dari masyarakat Indonesia untuk menjadi masyarakat yang besar. Syair lagu yang nampaknya memiliki sebuah pesan cita-cita yang besar pula. Bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang dimulai dari memiliki jiwa yang besar. Itulah makna sederhana dari syair…

Citizenship dan Ummah: Kesetaraan dan Kesamaan Hak Kewarganegaraan

Kalimah Sawa’-Sebagian negara yang berpenduduk  mayoritas Muslim membentuk negara republik, sebagian lain tetap menggunakan sistem kerajaan. Ada yang menggunakan sistem pemerintahan parlementer ada pula presidensial. Tidak sedikit negara Islam menggunakan Islam sebagai dasar dari negaranya, tetapi ada juga yang menggunakan sistem sekuler dengan tidak melekatkan agama dalam konstitusi negara. Kali ini redaksi berkesempatan mewawancarai Hilman Latief, Ph.D dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Topik…

Saya Pancasila Saya Indonesia

Oleh: Muhammad Afriansyah[1] “Keberadaan Pancasila dapat diukur melalui tiga kriteria, yaitu konsistensi, koherensi, dan korespondensi. Dari ketiga kriteria itu, dapat dilihat apakah Pancasila dalam suatu kurun waktu sejarah mempunyai konsistensi, koherensi, dan korespondensi, atau tidak. Kita lihat apa yang ditulis, dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh Orla dan Orba”. (Kuntowijoyo, Radikalisasi Pancasila, dalam buku Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, halaman 219) Meski…

Indahnya Hidup dalam Keberagaman

Oleh: Agung Ilham Prastowo[1] Indonesia merupakan negara yang dianugerahi kekayaan yang luar biasa oleh Allah Swt. Lihat saja keindahan alamnya, laut luas yang kaya akan sumber dayanya yang melimpah, iklim tropis yang menjadikan Indonesia mempunyai dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Setiap hari melihat indahnya matahari terbit dan tenggelam, berbagai tumbuhan tumbuh dengan sangat subur, dan kekayaan bumi lainnya yang melimpah membuat…

Pancasila dan Piagam Madinah: Prinsip Bernegara Cermin Dua Zaman

Kalimah Sawa’ – Indonesia sebagai sebuah negara memang suatu kumpulan individu yang perlu diatur dengan sedemikian rupa. Paham, ideologi, agama dan budaya serta sudut pandang kehidupan dari berbagai macam individu berbaur menjadi satu dalam sebuah tatanan yang kita sebut sebagai Indonesia. Adanya keragaman dalam berbagai hal tersebut berpotensi mengantarkan pada penguatan persatuan, tetapi dapat pula berpotensi memunculkan benturan. Apalagi Islam sebagai sebuah…

Hubuth dan Kisah Manusia Pertama

Oleh Mu’arif Dalam ajaran agama-agama Smitik (Yahudi, Nasrani, dan Islam), sosok Adam diyakini sebagai manusia pertama di muka bumi ini. Seperti halnya dalam ajaran Islam, Adam sebagai manusia pertama diyakini sebagai “seorang Nabi.” Pertanyaannya, apakah manusia pertama di muka bumi ini yang berstatus sebagai seorang Nabi telah membawa ajaran agama? Jika memang iya, maka bagaimanakah sistem ajaran atau doktrin keagamaan pertama pada…