Belajar Merawat Indonesia dari Bung Hatta

Oleh: Dariyana[1]

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.Sedikit prakata yang seharusnya mampu menggetarkan hati yang kosong dengan jiwa nasionalisme yang semakin jauh terkikis atas nama bangsa Indonesia. Sekiranya kita perlu mengetahui setidaknya jasa pahlawan kita terhadap bangsa Indonesia. Salah satunya adalah founding father Indonesia yaitu “Si Om Kacamata”. Om kacamata adalah sebutan dari salah seorang tokoh bangsa yang bernama Mohammad Hatta.

Mohammad Hatta dilahirkan di desa Aur Tajungkang, Bukit Tinggi pada tanggal 12 Agustus 1902. Hatta dilahirkan dari perpaduan dua keluarga yang terkemuka, sang ayah bernama Mohammad Jamil dan sang ibu bernama Saleha Djamil. Masa kecil, Hatta tergolong sebagai anak pandai, tekun, dan amat disiplin dalam mengaji sehingga beliau tumbuh menjadi sosok yang sangat religius. Beliau sangat suka mengikuti ceramah dan pertemuan politik di berbagai daerah.

Hatta hanya salah satu dari sedikit pemuda yang memiliki kesadaran tentang bangsanya. Dia menggunakan penanya sebagai senjata untuk memerdekakan bangsanya. Hatta memulai tulisan pertamanya ketika berusia 18 tahun yang dimuat dalam Koran Jong Sumatera. Tulisan pertamanya berjudul “Namaku Hindania”. Tulisan tersebut yang menceritakan tentang bangsa Indonesia atau pribumi yang mengalami penindasan oleh bangsa kulit putih yang sudah berabad-abad datang ke Indonesia.

Karena ketajaman pikir Hatta dan kekuatan menulisnya dalam mengkritik pemerintah kolonial, Hatta dipenjara pada tahun 1927. Ketika dipenjara semangatnya tidak pernah pudar untuk menulis dan menjaga kewarasann pikirnya dengan membaca. Dia termasuk penggiat sosial dalam membangkitkan  moral dan memerdekakan bangsa Indonesia dari keterjajahan.

Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikan dia mutiara yang langka di antara deretan pemimpin Indonesia masa kini maupun masa lampau. Karena karyanya, dia disebut sebagai seorang yang langka, tugasnya sebagai seorang negarawan namun aktif menulis. Sosok yang terlihat casual dengan pakaian jas dan sepatunya membuatnya menjadi pribadi yang serius dan dari itulah dia dianggap lucu.

Pada tahun 1921, Hatta tercatat sebagai seorang mahasiswa di Rotterdamse “Handel shoge school” sebuah sekolah ekonomi yang  sangat bergengsi. Di sana dia mematangkan diri sebagai seorang pemikir dan aktivitas gerakan. Dia pernah menjabat Perhimpunan Mahasiswa Indonesia. Ketika di Belanda, Hatta banyak bergaul dengan banyak orang dan berteman dengan tokoh komunis semisal Semaun dan Tan Malaka,  selain itu dia mulai mengembangkan dirinya dengan berorganisasi.

Kiprah perjuang di negeri Belanda, membuat namanya  “Mohammad Hatta dan Sutan Sjarir” terkenang menjadi sebuah jalan di kota Harlem yang diberikan oleh walikota Smiths. Pemberian nama tersebut karena mereka adalah orang yang telah berjasa, berjuang demi pembebasan kemerdekaan negaranya dan memiliki reputasi yang  baik.

Pada tanggal 20 Juli 1932, Mohammad Hatta kembali ke Indonesia dan perjalanannya tidak berhenti di Belanda. Di Indonesia Moh. Hatta banyak dicekal oleh pemerintahannya karena pemikirannya dan kritikannya terhadap kekejaman kolonial yang berakibat dibuangnya Hatta di Banda, sebuah pulau yang tenang dan warga yang sangat terasimilasi dengan kehidupan perkotaan. Di sana Hatta mendapatkan kenyamanan dan ketenangan dalam berpikir dan membuat dirinya bertambah produktif walaupun hidup dalam pengasingan.

Selain diasingkan di Banda, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahir juga pernah dipenjara di sebuah wilayah yang bernama Digul. Digul adalah sebuah daratan terpencil yang terdapat di pulau Papua yang sangat sulit dijangkau oleh manusia, dan tempat tersebut sering disebut dengan neraka dunia karena daerah tersebut termasuk daerah yang sangat membosankan, adanya ketidakpastian dan sangat sulit untuk memperhatikan kewarasan bahkan banyak yang hancur mentalnya karena putus asa.

Hakikat Kemerdekaan adalah Persatuan

Karena tekad yang bulat, Hatta mulai mengobarkan semangat untuk memerdekaan bangsa Indonesia dari kaum penjajah dan bersatu bersama Soekarno sehingga mendapat julukan“dwitunggal”. Walaupun kebersamaannya dengan Soekarno terlihat baik-baik saja,  namun Hatta banyak mengkritik sikap Soekarno terutama konsep pembentukan partai dan keanggotaanya. Soekarno lebih menyukai dengan penggalangan massa, sedangkan Hatta dan Sjahir lebih mempercayai sistem pendidikan dan kaderisasi karena adanya keyakinan bahwa ide yang bagus dan program yang baik pula akan membentuk sebuah sistem kepartaian akan bersifat Nasionalis yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

Pertentangan yang kian menjadi-jadi saat penolakan sistem multi partai dan demokrasi parlemen. Puncak kemarahan ini terjadi karena adanya pertikaian partai dan di sinilah Soekarno mencanangkan sistem Demokrasi Terpimpin. Dan  saat itulah perpecahan tak dapat terelakan sehingga nama dwi tunggal menjadi dwi tanggal. Dan Hatta pernah berkata bahwa suatu bangsa yang besar sudah lahir, namun ia akan melihat generasi yang kerdil.Walaupun perkelahian mereka tak terelakan, namun pertemanan mereka tetap langgeng sampai di akhir hayat keduanya.

Hatta adalah sosok yang jauh dari kemewahan dan hidupnya yang selalu dikelilingi buku, sehingga sampai muncul anekdot bahwa istri pertamanya adalah buku, istri keduanya adalah buku dan istri ketiganya adalah Rahmi Hatta. Dia selalu memberikan perhatian lebih kepada ilmu pengetahuan dan mengaplikasikan kecakapannya dalam menulis. Sudah lebih dari 151 judul buku Hatta, 42 buku tentang Hatta dan 100 lebih artikel yang sudah ditulis oleh Hatta. Baginya ilmu bukan hanya jalan atau cara untuk menemukan, melainkan jalan dan cara untuk menguji apa yang telah kita temukan atau alat untuk menemukan kebenaran itu sendiri. Selain kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan, Hatta juga mempelajari Islam dan kemudian bersikap dan bertindak sebagai orang muslim.

Ia bukan merupakan orang tidak keras atau terlalu fanatic terhadap agama, namun tindakannya dalam mewujudkan cita-cita kemerderkaan selaras dengan Islam. Menurutnya, ajaran Islam itu memimpin tingkah lakunya tetapi juga membina pandangannya tentang kehidupan masyarakat dan Negara. Rasa percaya kepada Allah SWT itu harus dipupuk dan ditindaklanjuti dalam amal perbuatan. Hatta mengingatkan kita bahwa hidup di dunia itu hanya sementara.  Oleh karena itu bumi ini harus kita pelihara dan harus kita bangun menjadi lebih baik lagi di  masa mendatang. Ini berarti kita harus membangun masyarakat dan bangsanya dengan baik.

Hatta sangat memimpikan sebuah Negara yang adil. Maksudnya adalah Indonesia yang adil tak lain daripada memberikan perasaan nyaman kepada seluruh rakyat bahwa ia dalam segala segi kehidupan yang diperlakukan tidak ada perbedaan-perbedaan untuk seluruh warga Negara Indonesia. Semua dianggap sama dari pemerintahan Negara dari atas sampai ke bawah berdasarkan kedaulatan rakyat. Harapannya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang aman untuk ditinggali oleh berbagai kalangan yang berbeda, entah beda agama, suku, bahasa dan etnis. Semua sama di wilayah Indonesia.

Hatta sangat mempersalahkan “kaum ningrat” atas penegakkan kekuasaan kolonialisme yang mereka hanya memanfaatkan ketidakberdayaan rakyat Indonesia untuk memperoleh hasil kerja sosial yang masuk ke kantong mereka sendiri. Hatta sangat menyetujui demokrasi desa yang mencakup musyawarah untuk mufakat, hak rakyat untuk mengadakan protes dan cita-cita menolong. Semangat demokrasi yang beliau usung berdasarkan pendiri Republik yang memiliki tiga landasa yaitu pertama paham sosialisme barat yang menjunjung tinggi perikemanusiaan, kedua ajaran agama, ketiga kolektivisme masyarakat Indonesia (gotong-royong). “Meski berbeda namun kita tetap bisa berjaung bersama”, demikian harapan Bung hatta dalam sebuah petikan tulisannya.

Dalam pembentukan Negara yang adil untuk seluruh rakyatnya, Hatta memiliki konsep yang disebut dengan“Hattanomics” yaitu konsep untuk menghapuskan ketidakadilan dengan tiga (3) jurus:penguasaan asset oleh Negara, control terhadap usaha swasta,  dan tumbuhnya perekonomian rakyat yang mandiri melalui koperasi. Hatta adalah sosok yang memiliki moral yang tinggi dalam kepemimpinannya, beliau tidak pernah memperkaya dirinya sendiri dan keluarganya. Perjuangan membela rakyat tidak akan murni jika ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan lain.

Setelah Indonesia merdeka, baru ia memenuhi janji untuk menikahi Rahmi yang dihadiahi buku“Alam Pikiran Yunani” yang ditulisnya sendiri. Dan hasil pernikahannya, beliau dikarunia 3 orang putri yaitu Halida Nuriah, Meutia dan Gemala. Dan dari Hatta pula kita banyak belajar tentang arti kepemimpinan yang jauh berfikir untuk kemajuan bangsanya. Bangsa dalam arti masyarakat dan sosial. Apalagi kepemimpinan yang diharapkan mampu dirasakan oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia, apalagi Indonesia yang terkenal dengan keragamannya, entah budaya maupun agama. “Terimakasih Bung, keteladananmu sangat tiada nilainya bagi persatuan negeri ini”.[]

[1] Seorang Guru dan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Sukoharjo

What's your reaction?
2So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment